Ambient Music Adalah “Obat Penenang Terbaik”

11906152_1485614375093782_1617772706_n

Setiap orang punya definisi tersendiri mengenai genre musik favorit yang selalu membuatnya merasa nyaman. Pasca absen beberapa minggu dalam blogsphere area, mimin kini mencoba kerja rodi kembali dalam the harder the life.

Indoensia (1)

Kali ini atau pertengahan november 2015. Mimin tidak ingin banyak berpikir terlalu rumit dalam berbagai hal. Kondisi bangsa yang seakan terjun bebas karena krisis kepercayaan dari pemimpinnya, sedikit membuat mimin lebih ingin banyak menikmati genre musik yang kental dengan dimensi ruang kosong, hening, menenangkan serta meledak-ledak dalam suasana hati terlihat tenang.

Bicara musik favorit yang seakan-akan menjadi obat penenang terbaik. Mimin sejatinya menyukai banyak jenis musik karya anak bangsa indonesia. Hemat mimin, musikalitas musisi tanah air sekarang memiliki kreatifitas yang pastinya penuh warna dalam bentuk karya yang luar biasa. Dibalik lirik serta permainan instrumen yang membuat penikmatnya terbawa suasana dari alunan musik itu sendiri.

224eedb2-3cbd-4030-9997-bfaa9a25acec

Salah satunya ada lagu dari The Trees And The Wild yang november 2015 ini akan manggung di bandung atau tepatnya di Sabuga. Band yang satu ini memang sering membuat para penikmatnya terhanyut. Membawa audience benar-benar terhanyut masuk ke dalam suasana yang cenderung depresif, diawali alunan musik instrumental yang pelan disertai lirik lagu yang lebih mirip sebuah repetisi, menghasilkan dimensi ruang kosong yang dark banget. Layaknya sebuah situasi kondisi hati yang awalnya tenang, kemudian endingnya berubah drastis, menjadi meledak-ledak, histeris, epic, eargasm dan mampu membuat mata penikmatnya berkaca-kaca seperti dalam lagu berjudul Empati Tamako.

Bagi mereka yang menyukai larut dalam kesendirian. Lagu ini benar-benar mewakili jiwa-jiwa yang identik dengan sosok keras kepala, sosok yang cenderung memiliki kebiasaan menikmati kesendirian, dimana pada umumnya mereka memiliki imajinasi yang kental dengan nuansa anti-mainstream dan pola pikir out of the box-nya.

Lagu empati tamako ini pun akhirnya jadi backsound dari blog sederhana ini. Secara singkat, mimin salut dengan karya yang dibuat oleh para personil The Trees And The Wild. Meskipun Iga beberapa tahun yang lalu memilih mengundurkan diri, kemudian membentuk Barasuara dengan teman-teman satu filosofinya.

The last but not least, berikut ini beberapa band ataupun lagu-lagu yang menurut mimin layak untuk didengarkan. Khususnya bagi mereka yang benar-benar percaya, Jika kalimat “Murung Itu Sungguh Indah…” ialah benar adanya :

  1. The Trees And The Wild – Empati Tamako
  2. This Will Destroy You – They Move On Tracks Of Never Ending Light
  3. This Will Destroy You – The Mighty Rio Grande
  4. This Will Destroy You – Burial On The Presidio Banks
  5. This Will Destroy You – Quiet
  6. Caspian – Sycamore
  7. Caspian – Waking Season
  8. Caspian – Some Are White Light
  9. 65daysofstatic – Radio Protector
  10. 65daysofstatic – Taipei
  11. Sigur Ros – Full Album a.k.a semua karya mereka OK 🙂

Have a good eargasm everyone. Jangan lupa tetap semangat berkarya dan selalu mendoakan kebaikan  di dunia serta akherat, khususnya untuk kedua orangtua dan semuanya, Aamiin.

Semangattttttttttttttttttttttttttttt…….!!!!!!!!

Hidup ini sebenarnya sederhana. Hanya saja terkadang kita terlalu berpikir keras dalam memaknainya, sehingga membuatnya jauh terlihat lebih rumit dari sebelumnya.

 

Iklan

Efek Rumah Kaca – Sebelah Mata

Sebelah Mata

Menurut penilaian dari teropongan kaca-mataku lirik lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul “Sebelah Mata” ini menceritakan tentang seorang yang harus berbaring tak berdaya karena sedang terserang penyakit Diabetes. Ingin selalu untuk berpikir optimis tapi realita yang ada menunjukkan jika penyakit yang telah dia alami menuntun dia dalam konsisi yang tak berdaya dan kesepian adalah teman setia lantaran orang-orang disekelilingnya sudah jarang lagi mengisi hari-harinya.

Memang sangat menyakitkan jika kita dalam kondisi seperti itu, Namun jika ada dari teman, Sahabat atau keluarga kita yang mengalami seperti itu kita hendaknya harus mensupport dia dan tak lupa selalu ada disisinya agar mereka merasa tak sendirian serta mempunyai semangat yang berlipat untuk berjuang untuk sembuh. ( Rivalina Maiya )

IMG_0551
Sebelah mataku yang mampu melihat
Bercak adalah sebuah warna warna mempesona

IMG_0554

Membaur dengan suara dibawanya kegetiran
Begitu asing terdengar

IMG_0556

Sebelah mataku yang mempelajari
Gelombang kan mengisi seluruh ruang tubuhku

IMG_0555

Terbentuk dari sel akut
Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami

IMG_0557

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari
Gelap adalah teman setia
Dari waktu waktu yang hilang

my favorit music at heima

70a6593f29e4a063df38dbf853260b40.750x562x1

Dalam sebuah wawancara, Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca mengeluarkan jawaban yang menyiratkan bahwa dalam lagu bahasa kadang tidak penting-penting amat. Dalam jawaban itu dia juga menyebut-nyebut Sigur Ros.

Cholil mengeluarkan jawaban terkait soal bahasa itu ketika ditanya oleh The Jakarta Post. Apakah dirinya merasa tidak masalah menulis lirik dalam bahasa Indonesia? Jawabannya kemudian keluar dengan enteng: “Jika musik Anda cukup bagus, apapun bahasanya, orang-orang akan membeli album Anda. Lihat saja Sigur Ros.”

Cholil dan kawan-kawannya memang begitu. Mereka menggunakan bahasa dalam lagu sebagai media penyampaian pesan. Maka, tidak heran jika kemudian mereka lebih suka bersyair dalam bahasa Indonesia.

Alasannya jelas: supaya pesannya cepat sampai. Namun, menilik dari jawabannya di atas, Cholil seperti menuturkan bahwa kadang bahasa hanyalah bagian dari musik itu sendiri, dan begitulah Sigur Ros.

Jon ‘Jonsi’ Thor Birgisson

Jon ‘Jonsi’ Thor Birgisson, Georg Holm, dan Orri Pall Dyrason memang lebih dari sekadar memainkan gitar, bass, dan drum. Mereka memainkan lebih dari itu. Lagu, bagi mereka, adalah kembali ke hakekatnya: tak lebih dari kumpulan nada (atau suara) yang dikomposisi dan dibangun oleh berbagai instrumen. Maka, jangan heran kalau Sigur Ros suka bawa seabrek musisi tambahan ke atas panggung.

Jonsi bahkan tidak sekadar bernyanyi, atau bersyair, atau bertutur dengan mulutnya; dia mengeluarkan suara. Dalam mayoritas lagu bikinannya, Jonsi memang menggunakan bahasa ibunya, bahasa Islandia.

Tapi, dalam kesempatan lainnya, mungkin dia hanya berdengung, menggerutu, atau entah bunyi-bunyian apalagi yang bisa dihasilkan mulutnya. Media kemudian melabeli cara bernyanyi yang seperti asal-asalan ini dengan bahasa “Hopelandic”.

Toh, meski tidak paham-paham amat dengan bahasa Islandia atau bahasa bergumam karangan Jonsi itu, lagu Sigur Ros meng-ambience sampai ke mana-mana. Teori Cholil terbukti. Lagu memang kadang seringkali seperti itu. Bukti lainnya, lihat bagaimana banyak band asal Jepang punya penggemar tersendiri di Indonesia. Padahal, paham atau mengerti bahasa Jepang pun belum tentu.

Bagaimana kemudian Sigur Ros menembus batas bahasa itulah yang kemudian jadi menarik. Alasannya bisa jadi klise, karena musik adalah bahasa universal. Tapi, hal serupa bisa terjadi di sepakbola sekalipun. Buktinya Wayne Rooney dan Carlos Tevez dulu asyik-asyik saja bekerja sama. Padahal yang satu tidak bisa bahasa Inggris, sementara yang lainnya grammar bahasa Inggris-nya saja buruk —boro-boro bisa bahasa Spanyol.

80638c28ef558263
Thom Yorke

Bahasa jadi tidak penting-penting amat ketika sesuatu yang dihasilkan bernilai luar biasa. Rooney dan Tevez setidaknya membawa Manchester United memenangi tiga piala dalam dua tahun kebersamaan mereka. Sementara Sigur Ros menghasilkan musik, yang bagi saya, mengekspresikan pelarian. “I think the most important thing about music is the sense of escape,” kata Thom Yorke.

Lagu-lagu Sigur Ros, layaknya band Skandinavia kebanyakan, dengan banyaknya ambience memberikan suasana tersendiri. Kadang bikin merenung, kadang bikin melompat-lompat. Entah kenapa, mungkin punya negeri yang dilintasi aurora adalah berkah, bisa duduk-duduk dengan nyamannya sambil menikmatinya ber-seliweran di atas langit sana, lalu lagu-lagu itu pun tercipta dengan sendirinya.

Maka, tidak peduli seperti apapun liriknya, lagunya sendiri sudah mampu menghadirkan adegan-adegan di benak masing-masing pendengarnya. Salah seorang teman saya bahkan malas mencari apa arti dari lirik-lirik Sigur Ros. Baginya, punya interpretasi sendiri soal lagu-lagu mereka jauh lebih mengasyikkan.

Vaka, salah satu lagu Sigur Ros, digambarkan dengan begitu dingin dan kelam. Entah apa yang dinyanyikan Jonsi, tapi video-nya seperti sudah menggambarkan adegan apa yang cocok untuk lagu itu: sebuah langit merah pekat, salju turun dengan warna hitam, sementara anak-anak bermain dengan senangnya di tengah tumpukan salju hitam itu… dengan mengenakan topeng gas. Absurd memang, tapi terasa pas.

Adegan-adegan itu kemudian terbawa sampai penampilan di atas panggung di Jakarta beberapa hari lalu. Jonsi dan teman-temannya tidak hanya menyajikan lagu, tetapi juga sesuatu untuk memanjakan benak dan khayalan. Bahasa tidak hanya mereka terjemahkan lewat lagu, tetapi juga lewat visual.

Dimulai dari tirai penutup yang jatuh ketika lagu kedua mendadak jadi menghentak, set panggung yang penuh lampu-lampu bohlam, sampai cahaya lampu yang berubah-ubah sesuai mood lagu. ‘Vaka’ yang mendung itu ditandai dengan warna lampu merah gelap, sementara ‘Hoppipolla’ yang begitu menyenangkan dan bikin berjingkrakan itu ditandai dengan percikan kembang api.

Jonsi dan rekan-rekannya pun jarang menyapa penonton atau mengajak bicara dalam bahasa Indonesia –seperti layaknya musisi-musisi lain yang datang ke sini. Tapi, itu jadi tidak begitu penting. Bahasa yang dihasilkan oleh visual dan musik mereka sudah lebih dari itu.. sudah cukup membuat penontonnya terpana. (roz/doc)

The Cave Man

Bukan suatu hal yang buruk ketika orang lain menilaimu kecil, karena hal yang terburuk ialah ketika Anda melakukan hal yang sama seperti apa yang telah mereka nyatakan (TCM). Jika musik Anda cukup bagus, apapun bahasanya, orang-orang akan membeli album Anda. Lihat saja Sigur Ros (CM). I think the most important thing about music is the sense of escape (TY).