Andai Para Penguasa Melihat Potret Kehidupan Bocah-Bocah SD Ini

Hampir semua anak yang masih duduk di sekolah dasar pasti memiliki keinginan untuk dapat bermain bersama teman-teman sepulang sekolah. Karena untuk usia sekecil itu yang ada dalam pikiran mereka pasti tidak jauh-jauh dari bermain.

Kita semua tentu sering mendengar betapa banyak anak usia sekolah di negeri tercinta kita yang tidak bisa merasakan pendidikan. Perekonomian keluarga menjadi alasan sehingga mereka lebih mengutamakan bekerja dan memilih putus sekolah. Namun lain cerita dengan beberapa kisah mengharukan bocah SD yang telah mimin rangkum dari berbagai sumber, seperti dibawah ini.

Bocah kelas 6 SD ini memulung hingga malam hari demi beli tas sekolah

“Pengen ngasih ibu, nenek, sama adik jajan. Tas sekolah saya juga sudah sobek, saya pengen punya tas baru buat sekolah,” kata Inan.

Serang – Jika lumrahnya anak-anak kecil dimanjakan orangtua serta dibelikan perlengkapan sekolahnya, namun sayangnya hal tersebut tidak terjadi pada Inan. Bocah kelas 6 SD itu harus memulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan sekolahnya.

Inan yang berasal dari keluarga kurang mampu, harus memulung hingga malam hari untuk memenuhi keinginannya membeli tas baru. Ernydar Irfan yang melihat Inan saat memulung di sekitar Masjid Agung Serang, mengaku terharu dengan kondisi Inan.

Inan ketika memulung
                   Inan ketika memulung

                      Dirinya terkesan melihat seorang anak kecil lebih memilih memulung dibandingkan meminta-minta. Padahal di kawasan tersebut, kata Ernydar, banyak anak-anak kecil yang meminta-minta.

Melihat kerja keras Inan, Ernydar pun lekas turun dari mobilnya dan menyapa anak kelas 6 SD ini. Ia menananyakan kenapa anak kecil itu masih memulung hingga larut malam. “Kenapa kamu musti mulung ? Bapakmu ke mana ?” tanyanya kepada anak itu.

Ernydar menuturkan, bahwa bapak anak tersebut juga seorang pemulung. Saat ditanya apakah memulung adalah perintah ayahnya, Inan menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan bahwa hari itu adalah libur sekolah yang dimanfaatkannya untuk membantu keluarganya di rumah dengan memulung.

“Pengen ngasih ibu, nenek, sama adik jajan. Tas sekolah saya juga sudah sobek, saya pengen punya tas baru buat sekolah,” kata anak kelas 6 SD Wirana Pasir itu.

Sementara itu, kisah hampir serupa terjadi di sudut kota lainnya.

Bocah SD jualan gorengan demi menghidupi ibu dan kakak, salut!

   Karena kakaknya perempuan dan menemani ibunya, akhirnya bocah inilah yang harus berjualan demi keluarga. (Ahada Ramadhana / B-net)
bocah sd jualan gorengan demi menghidupi ibunya
  berjualan demi menghidupi ibunya

Bandung – Sementara itu kisah hampir serupa dikabarkan pertama kali oleh akun Facebook Risa Saraswati pada 26 Mei lalu, seorang anak penjual gorengan keliling ketika mampir ke rumahnya terlihat terkantuk-kantuk. Setelah dikonfirmasi ternyata dia baru saja belajar karena esoknya akan ada ulangan di sekolah.

Berdasarkan obrolan Risa dengan sang bocah, kedua orangtuanya sudah tidak bersama lagi. Jadilah bocah ini menjajakan gorengan yang dibuat ibunya. Dia punya seorang kakak kelas 2 SMA. Namun karena kakaknya perempuan sehingga tinggal di rumah menemani ibunya. Jadilah dia yang harus berjualan sendiri malam-malam.

Ketika dihadiahi sweater oleh Risa sang anak malah berencana untuk menjualnya. “Teh, boleh dijual sweaternya….?” tutur sang anak sambil makan mi instan pemberian Risa.

Ketika ditanya apakah dia tidak takut diculik karena pergi sendiri malam-malam, sang anak menjawab, “Gak papa Teh, nanti saya bilang sama tukang culiknya. Sok, culik saya! Tapi tukang culiknya harus ngasih ibu saya uang. Biar ibu gak ke Arab lagi menjadi TKI,” tuturnya. (brl/swh)
Dan selanjutnya ada kisah dari,

Bintang, murid SD yang keliling kompleks jualan teh botol usai sekolah

Teh jualannya biasanya dia simpan dalam tas sekolah. Sehari-hari dia biasa membawa 6-10 botol dalam tasnya yak tak tentu habis terjual. (Ines Faradina / B-net)
keliling komplek jualan teh botol
      Bintang keliling komplek jualan teh botol

Malang – Selanjutnya ada sosok bocah bernama Bintang yang pertama kali mencuri perhatian para pengguna Facebook saat ada salah satu pengguna Facebook dengan akun bernama Ayoe Eoya mengunggah foto Bintang lengkap dengan keterangan foto yang mendeskripsikan tentang keseharian bocah ini. “Malam itu Bintang ketuk pagar rumah saya dan dia bilang ingin main. Setelah saya ajak masuk dan saya tanya-tanya ternyata dia penjual teh botol keliling yang memang sehari-hari berjualan di sekitar kompleks dari rumah ke rumah,” cerita Dyah Ayu

Ayu juga menambahkan bahwa malam itu Bintang terlihat sedikit lelah dengan pakaian yang sedikit lusuh. Kepadanya Bintang bercerita bahwa sehari-hari dia berjualan teh botol dengan menggunakan sepeda. Teh jualannya biasanya dia simpan dalam tas sekolah. Sehari-hari dia biasa membawa 6-10 botol dalam tasnya yak tak tentu habis terjual setiap harinya.

“Bintang mengaku mulai berjualan sejak pulang sekolah jam 2 siang sampai jam 7 malam. Bintang juga cerita bahwa dia sendiri yang berinisiatif untuk menjual teh karena ingin membantu ibunya, dan satu botol teh dijualnya dengan harga Rp 4.000 dengan pendapatan per hari sekitar Rp 10.000-Rp 15.000,” lanjut Ayu.

Bintang sendiri merupakan anak kedua dari 3 bersaudara yang hidup dalam keluarga yang bapak-ibunya bercerai, di mana sudah lama sekali dia tidak bertemu ayahnya. Awalnya ibunya melarang Bintang berjualan, tapi akhirnya Bintang dapat meyakinkan ibunya dan dia diperbolehkan untuk berjualan teh asalkan harus kembali pulang ke rumah tak lebih dari pukul 7 malam.

Ibunya sendiri sehari-hari memiliki usaha menjual pakaian, namun saat ini usaha ibunya terpaksa akan terhenti karena kurangnya pembeli. Sementara untuk Bintang sendiri sempat membantu ibunya berjualan jilbab. “Bintang juga cerita kalau dia setiap hari selalu belajar sepulang berkeliling, meskipun mengantuk dia tetap mencoba terjaga untuk belajar. Waktu saya tanya cita-cita Bintang, dia tersenyum malu-malu menjawab bahwa dia mungkin ingin menjadi tentara, tapi belum tau juga menurutnya. Jadi apapun dia kelak semoga masa depannya bersinar dalam terang dan gelap serta berguna bagi sekitar layaknya Bintang.” (brl/pep)

Dan terakhir ada sosok yusuf,

Kisah Yusuf, usia 13 tahun jalan kaki 8 km jualan peyek demi bantu ibu

Demi mendapatkan bayaran Rp 5.000 per bungkus, ia rela berjalan kaki 8 km dari rumah menuju lapaknya. (Irwan Khoiruddin / B-net)
yusuf ketika berjualan
                  yusuf ketika berjualan
         Beruntung sekali anak yang bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya. Tidak hanya bahagia, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun sang anak tidak perlu memeras keringatnya. Namun keadaan tak semuanya sama. Banyak anak meski usianya masih belia, harus berjuang banting tulang menghidupi keluarganya.

Faktornya pun bermacam-macam, mulai dari kondisi ekonomi keluarga yang sejak awal kurang berkecukupan, hingga kasus anak yang ditinggal kepala keluarganya. Seperti yang dialami oleh Yusuf. Bocah umur 13 tahun ini harus rela berjualan hingga larut malam, setelah ayahnya meninggalkan ibu dan adik-adiknya.

Yusuf di usianya yang masih belia, semangat menjajakan peyek dari pagi hingga larut malam. Ia biasanya menunggu pelanggannya di sebuah minimarket pom bensin di Kecamatan Banyumas, Purwokerto. Demi mendapatkan bayaran Rp 5.000 per bungkus, ia rela berjalan kaki 8 km dari rumah menuju lapaknya.

Idang Prihantoro, salah seorang warga setempat yang iba melihat perjuanganya mengaku salut dengan kegigihan Yusuf. “Anak itu harusnya masih sekolah, tetapi himpitan ekonomi membuatnya tak bisa lagi duduk di bangku sekolah,” ujar Idang

Yusuf terpaksa menghentikan sekolahnya, karena sejak ayahnya meninggalkan ibu dan adik-adiknya, ekonomi keluarga bergantung padanya. Ia tak mampu lagi menyisahkan uangnya untuk melanjutkan belajarnya. Meski sebenarnya masih ingin belajar lagi, namun apa daya Yusuf yang harus membuat dapur rumahnya tetap berasap. Ia tak mau mengandalkan pemberian orang tanpa berusaha. Yusuf lebih senang ia mampu mengumpulkan rupiah dari jerih payahnya sendiri. (brl/pep)

indonesia saat ini
                           

Boleh jadi beberapa potret kehidupan diatas adalah cerminan nyata perihal doa yang dibacakan oleh KH Khoirul Muna pada saat sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) beberapa waktu yang lalu dan sempat menghadirkan suatu kehebohan di dunia maya dan menyita perhatian para Netizen. Dan dalam doa tersebut berisi sindiran terhadap pemerintah yang belum mampu memberi kesejahteraan bagi masyarakat.

Berikut beberapa kalimat yang diungkapkan sang pembaca doa yang isinya menyentuh :

Di hari-hari ini kami meghadapi ujian berat, mulai dari alam yang kurang bersahabat, kekeringan di mana-mana, harga kebutuhan pokok yang masih melangit, ekonomi yang belum pulih, hingga penegakan hukum yang masih mencederai rasa keadilan rakyat. Sungguh pun begitu, segelintir penguasa masih acuh tak acuh, tak peduli kesengsaraan rakyat, sehingga rakyat semakin berang, jengkel, dan galau, karena mereka tidak memberikan suri tauladan.

Bebaskanlah kami dari berita-berita bohong, janji-janji palsu, dan harapan-harapan kosong, karena sesungguhnya tidaklah elok mereka memanipulasi dan menipu rakyat yang sengsara, menderita, dan hampir berputus asa.

Ya Allah, sudah lama rakyat kami bersabar, meskipun mereka miskin harta tapi kaya jiwa sehingga mampu memaafkan mereka yang menyengsarakan hidupnya.

Berikanlah kami pemimpin yang sejati, yang satu kata dengan perbatan, yang insyaf dan ingin bertaubat… Anugerahkanlah pemimpin kami agar senantiasa memiliki kepekaan dan kesalehan sosial, kewarasan pikiran, dan kebeningan hati nurani.

Sirami hati mereka untuk terus bermuhasabah, mengkoreksi diri dan hendaknya selalu peduli pada derita insani Indonesia.”
Dan masih dalam suasana kemerdekaan NKRI yang ke 70 Tahun, Mimin as kulibahan a.k.a salah satu rakyat jelata turut berdoa agar semoga para pahlawan bangsa yang gugur, karena berjuang sampai titik darah penghabisan dalam membela negara demi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diterima ditempat yang layak sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan.

Terima kasih wahai para pahlawan bangsa, semoga generasi yang akan datang mampu memaknai perjuangan kalian serta dapat mentauladani kisah heroik perjuangan bocah-bocah diatas yang pada akhirnya akan membawa kita merasakan KEMERDEKAAN yang seutuhnya & Jayalah INDONESIA !

Akhir kata semoga para politikus korup membusuk beserta para “yesman” a.k.a para pengikut-pengikut setianya. Karena,

“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan),
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik…”

#2 #0 #1 #5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s