“…narsisme perfeksionis egoistis van ladenistis people nus ayas maunyas…”

Selamat malam semuanya. Malam ini tepat tanggal 30 di bulan oktober 2014 atau minggu terakhir di bulan ke sepuluh di tahun yang penuh dengan kejutan. Tahun ini pun bisa dikatakan penuh dengan intrik, polemik, penuh dengan tensi yang mudah sekali naik turun dan cenderung mudah panas.

Terlepas dari situasi yang mudah memanas ini, malam ini pun mimin kembali hadir dengan keanehan tulisan yang cenderung standar dan bersifat suka-suka mimin aja.

Dan pada akhirnya mimin pun harus akui jika esensi dari dunia bloghsphere itu sendiri ya be your self… Mau nulis A, B, C, D ampe Z ya terserah hak pemilik warung alias blogger itu sendiri.

Hemat mimin siapapun bebas berekspresi di media sosial. Termasuk dalam lingkungan wordpress ini yang mimin rasa menyenangkan. Sekalipun mimin masih newbie dan layaknya anak sekolah dasar, tapi mimin harus akui jika wordpress ini melebihi ekspektasi dengan jutaan manfaat yang dapat mimin peroleh dari kerja bakti di dunia blogsphere saat ini.

Bicara sosial media mungkin banyak dan mimin sendiri lebih nyaman dengan beberapa diantaranya, semisal wordpress, goggle plus, instagram dan facebook. Selain keempat itu mimin agak kurang mengikuti karena ya faktor suka suka tadi yang artinya bebas mengeluarkan pendapat ataupun vote.

Terlepas dari suka suka tadi, semoga semuanya tetap dalam koridornya masing-masing dan hargai perbedaan satu sama lain. Terserah tapi tetep dalam batas kewajaran dan yang patut digaris bawahi ialah tentunya setiap orang memiliki pandangan berbeda, maka mari kita tetap saling menghargai satu sama lain dan teruslah berkarya.

Sejujurnya terkadang kita perlu menjadi seseorang yang berbeda dan dalam konteks yang berbeda ini artinya, lakukanlah banyak hal yang menurutmu menyenangkan dan jangan pedulikan ucapan dari oranglain, selama itu tidak merugikan mereka… Ya enjoy aja.

Sebagai contoh perihal obrolan temen kontak bbm misalnya. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan seseorang atau oranglain terlihat kurang sepaham dengan pemikiran kita dan cenderung kurang “manusiawi…”… Ya hak kita juga delete contact dan lain sebagainya.

Lakukanlah sesuka hati, tanpa perlu memikirkannya terlalu berat. Inget, hidup terlalu singkat jika kita berada dalam lingkungan yang kurang menyenangkan. Bukan berarti mengarah ke anti sosial, hanya saja sudah saatnya menjadi pribadi yang juga menghargai diri sendiri dengan menjauhi lingkungan yang kurang membuat kita nyaman.

Take a look around, banyak anak muda sukses lahir dari lingkungan yang baik, meski terkadang perjalanan hidupnya terasa perih. Namun mereka yang sukses, pada umumnya berada pada iklim positif yang luar biasa manfaatnya. Katakanlah heningnya malam dan luar biasanya kesendirian yang justru memompa mereka jauh lebih semangat berkarya meski memiliki banyak keterbatasan.

Bayangkan jika kalian berada dalam lingkungan yang kurang mendukung. Niscaya kelemahan semakin menguat dan kesuksesan pun terasa semakin menjauh. Oleh karena itu, jauh lebih baik jika kita selektif memilih lingkungan. Fokus dengan pekerjaan, pendidikan serta abaikan lingkungan yang menurut kita tidak membuat nyaman.

Ingat diri kita bukan customer service selama 24 jam full. Layaknya korban tuntutan peran operator provider yang 24 jam bekerja, walaupun itu tidak mungkin karena waktu bekerja pun ada batasnya dan setiap pekerja tidak akan mampu bekerja 24 jam untuk perusahaan manapun.

Intinya let’s do the best on great environment (entah artinya apaan haha, mimin pun asal nulis…). Selama itu menyenangkan hati dan membuat nyaman untuk menyongsong masa depan… Tak ada salahnya delete contact bbm, delete akun facebook oranglain dan unfollow akun instagram.

Selain itu sudah saatnya kita selektif. Analogikanya yaitu, buat apa kita bales bbm, bales pesan dalam social facebook dan lainnya. Jika mereka yang menghubungi itu kurang manusiawi, sebagai contoh setiap orang pasti ingin diperhatikan. Namun hidup dalam lingkungan “…narsisme perfeksionis egoistis van ladenistis people nus ayas maunyas…” doang itu menyedihkan (maaf klo istilahnya kepanjangan…)

Intinya mari budayakan delete dan delete selama itu tidak merugikan oranglain. Teguhkan hati dan teruslah berkarya tanpa lingkungan “…narsisme perfeksionis egoistis van ladenistis people nus ayas maunyas…”

The last but not least, whatever they say….. Selektif itu menunjukkan kita menghargai diri sendiri dan bukan berarti anti sosial. Sedangkan menyedihkan itu ketika kita berada dalam lingkungan yang didominasi kaum hedonis, pemuja gratisan dan pecinta nebengers forever dan sebagainya.

Mungkin ini terlihat impulsif. Namun let’s Stop terlalu dekat dengan kaum yang terlalu membanggakan kemewahan milik oranglain, teman, orangtua, kesempurnaan jabatan, fisik, harta dsb.

Percayalah, mereka yang prihatin dengan keadaan akan jauh lebih dekat dengan keberuntungan. Layaknya mereka yang sukses, pada umumnya adalah mereka memiliki yang memiliki empati dan senantiasa mendengarkan hati kecil serta mengutamakan nurani.

Let’s burn your rubber and not your soul… Go to hell stereotype minded. See you everybody who loves this site…

Bonus tambahan :
…Wanita dan laki-laki suka dengan hal yang jelas. Jelas cintanya, jelas agenda perihal akad nikahnya, jelas pekerjaan dan rencana masa depannya. Serta jelas bukan aliran “cinta jangkrik…” yang hobi membagi cinta kemana-mana, obral sana obral sini dalam menjalani seleksi alam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s